Berita ini baru saya dapatkan ketika saya membuka e-mail di yahoo. Jujur, saya kaget!
Mungkin kamu juga gak percaya, tapi gak ada salahnya coba baca berita di bawah ini :
Liputan6.com, Kendari: Musik dangdut masih menjadi daya tarik partai politik untuk menjaring massa. Seperti kampanye Partai Golkar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (31/3). Goyangan Dewi Persik membius para peserta kampanye. Bisa jadi goyangan sang biduan lebih menarik ketimbang ocehan para juru kampanye.
Bahkan saking hebohnya, panggung kampanye nyaris roboh. Panik, baik sang penyanyi maupun penontonnya mencoba menyelamatkan diri. Ternyata sebagian tiang panggung patah akibat tak mampu menahan beban di atasnya.
Namun, kampanye tetap berlanjut. Usai Ketua DPP Golkar Agung Laksono menyampaikan orasinya, goyang dangdut dilanjutkan. Bahkan, makin siang makin erotis. Entah lupa atau pura-pura tidak tahu. Pasalnya, aksi tidak santun itu juga disaksikan anak-anak.
Musik dangdut memang masih menjadi andalan parpol. Kehadiran Raja Dangdut di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga nyaris memakan korban lantaran panggung roboh. Lantunan lagu-lagu cinta Roma Irama membuat simpatisan PPP bergoyang tiada henti.
Baru enam lagu berkumandang, tiba-tiba panggung tempat duduk para calon legislatif di sisi kiri panggung utama roboh. Tiga orang luka ringan dan seorang lainnya retak tulang kaki.(BOG/Arwan Ganda Saputra dan Asdar)
So,,
bagaimana ya etika berkampanye dengan musik dangdut? perlu atau tidak perlu?
hmm....
ayo,,
kemukakan pendapatmu!!!
nice regard,,
aLYa